Samarinda - Rencana pembangunan dua rumah sakit baru oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2027 kembali mengangkat diskusi tentang pemerataan fasilitas kesehatan. Anggota DPRD Kaltim, Syarifatul Sya’diah, menilai bahwa kebijakan kesehatan tidak boleh hanya memprioritaskan wilayah besar, tetapi harus menyentuh daerah yang selama ini paling minim layanan.
Menurut Syarifatul, pembangunan rumah sakit di Samarinda dan Kutai Barat tentu langkah yang baik. Namun, ia menekankan bahwa masih ada banyak wilayah lain di Kaltim yang membutuhkan perhatian serupa.
“Rumah sakit itu kebutuhan dasar. Semua warga Kaltim harus mendapatkan akses layanan yang layak,” ungkapnya, Kamis (20/11/2025).
Ia mengakui belum menerima laporan lengkap siapa saja daerah yang diusulkan untuk pembangunan fasilitas kesehatan baru. Meski begitu, ia kembali menegaskan bahwa isu kesehatan selalu menjadi fondasi dari pembangunan SDM yang kuat.
“Masyarakat harus sehat agar bisa menjadi bagian dari generasi emas. Kesehatan dan pendidikan itu dua hal yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Syarifatul menyampaikan bahwa visi Gubernur Kaltim dalam mencetak generasi emas hanya dapat tercapai apabila persoalan pelayanan dasar ditangani secara menyeluruh. Mengurangi stunting, memperbaiki akses layanan, dan memastikan fasilitas kesehatan merata menjadi kunci utama.
Dalam kesempatan itu, ia menyoroti dua daerah yang menurutnya paling mendesak untuk diperhatikan: Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Kedua wilayah tersebut, kata Syarifatul, masih menghadapi kesenjangan ekonomi dan infrastruktur, termasuk dalam hal pelayanan kesehatan.
“Kubar dan Mahulu memang perlu dukungan besar. Jangan sampai ketimpangan pembangunan semakin melebar,” tegasnya.
Ia mendorong pemprov untuk segera memetakan kebutuhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya secara menyeluruh, agar perencanaan pembangunan ke depan bisa lebih terarah dan tidak melahirkan diskriminasi wilayah.(Adv/DprdKaltim)