Samarinda – Kasus kekerasan terhadap anak, termasuk perundungan dan pelecehan seksual di lembaga pendidikan, kembali menjadi sorotan nasional. Di tengah persiapan menuju bonus demografi 2035–2045, peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak kualitas generasi muda yang sedang dibentuk sebagai generasi emas.
Laporan kasus yang viral di media sosial semakin menyoroti pentingnya langkah mitigasi yang cepat, baik di sekolah umum maupun lembaga keagamaan.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menekankan bahwa kekerasan terhadap anak tidak boleh dianggap sepele. Ia menjelaskan dampak jangka panjang kasus ini tidak hanya terhadap korban secara individu, tetapi juga pada perkembangan mental, sosial, dan prestasi anak.
“Peristiwa ini sangat miris dan menyedihkan. Dalam rangka menyongsong generasi emas, masalah seperti ini tidak boleh terjadi karena akan menghambat kualitas SDM kita,” paparnya, Senin (24/11/2025).
Agusriansyah menegaskan pemerintah harus bertindak cepat sesuai kewenangan. Jika kasus terjadi di lembaga pendidikan di bawah Pemprov, tindakan tegas wajib segera dilakukan. Untuk lembaga yang berada di bawah Kementerian Agama, kementerian terkait harus langsung turun tangan.
“Semua pihak harus hadir dan tidak saling lempar tanggung jawab. Kasus seperti ini harus segera dimitigasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, dampak kekerasan anak bisa berlanjut pada masa depan daerah, seperti trauma, putus sekolah, dan menurunnya motivasi belajar. “Kalau persoalan ini tidak dikendalikan, bonus demografi hanya akan menjadi beban, bukan peluang,” katanya.
Agusriansyah juga mendorong kerja sama lintas sektor antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, aparat hukum, dan masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan. Menurutnya, sistem pelaporan dan perlindungan korban selama ini masih lemah sehingga banyak kasus berhenti di tengah jalan.
“Semua stakeholder harus mengambil langkah konkret. Pengawasan dan perlindungan anak harus diperkuat,” imbuhnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan generasi emas tidak hanya ditentukan angka partisipasi sekolah, tetapi juga oleh lingkungan pendidikan yang aman dan sehat.
“Jika kita ingin SDM unggul di masa depan, pastikan dulu mereka tumbuh di lingkungan yang melindungi, bukan yang menyakiti,” pungkasnya.(Adv/DprdKaltim)