Penanganan Stunting di Kutim Kian Terarah: DPPKB Siapkan Intervensi Kolaboratif untuk 11 Ribu Keluarga Berisiko
KUTIM - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) telah menyelesaikan pemetaan komprehensif terhadap lebih dari 11.000 keluarga yang teridentifikasi berisiko stunting (KRS). Data valid ini kini dijadikan acuan tunggal bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menyusun intervensi penanganan stunting yang lebih terarah dan tepat sasaran. Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaedi, menjelaskan bahwa fokus utama penanganan adalah pada pencegahan dari hulu, yaitu memperbaiki kondisi keluarga berisiko agar tidak melahirkan anak stunting baru. Keluarga dikategorikan berisiko jika memiliki masalah sanitasi, akses air bersih, hunian tidak layak, termasuk dalam kelompok PUS 4T (Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat, Terlalu Banyak), atau berada di kelompok ekonomi rendah (desil 1–4).
Penanganan 11.000 KRS ini dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor yang kuat, menghilangkan tumpang tindih program. Contoh nyata kolaborasi ini meliputi penyediaan air bersih di mana data keluarga berisiko diserahkan kepada PDAM Kutim yang berkomitmen memberikan bantuan langsung berupa sambungan air bersih gratis kepada keluarga rentan. Selain itu, keluarga berisiko stunting diprioritaskan untuk mendapatkan program pembangunan Rumah Layak Huni (RLH) guna memastikan sanitasi dan lingkungan yang sehat. Intervensi juga disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari pelatihan keterampilan untuk pemberdayaan ekonomi hingga pendidikan kesetaraan bagi keluarga di desil ekonomi rendah.
DPPKB juga mengintegrasikan seluruh data KRS ke dalam sistem aplikasi SIGLC Mill. Aplikasi ini berfungsi sebagai pusat informasi yang memudahkan akses dan pembagian data terbaru secara real-time ke instansi lain, memastikan semua pihak bekerja berdasarkan data yang relevan dengan kondisi lapangan. Keberhasilan ini juga merupakan hasil dari upaya verifikasi dan validasi lapangan yang intensif, yang berhasil menurunkan angka keluarga berisiko stunting dari posisi awal 19.900 menjadi sekitar 11.000 keluarga saat ini, menunjukkan keseriusan Kutim dalam menciptakan generasi yang lebih sehat. (ADV)